Tampilkan postingan dengan label Alam Semesta. Tampilkan semua postingan

Anak-anak Desa Sumbergondo  

Diposting oleh Achmad Fauzi

Berangkat dari semakin terpuruknya pendidikan yang ada di Indonesia, terutama di pedesaan. Hanya masyarakat yang kaya dan berduit saja yang bisa menyekolahkan anaknya sampai ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga pada masyarakat desa yang miskin, mereka tidak mampu untuk membiayai pendidikan anaknya. “ lebih baik bekerja nak… dari pada sekolah tinggi-tinggi yang akhirnya nganggur.”

Jadi orientasi orangtua sekarang, sekolah hanya merupakan ajang untuk pencarian kerja, dan bukan untuk mencari ilmu pengetahuan ataupun pengembangan potensi diri. Padahal, banyak anak-anak yang mau dan menikmati waktu luangnya untuk belajar bersama dalam sebuah komunitas belajar bersama.

Kondisi Pendidikan di Desa
Masyarakat desa Sumbergondo yang notabene mayoritas masyarakat petani sayur ataupun buah-buahan, yang berjuang untuk sebuah generasi yang progresif serta visioner tentang sebuah ilmu pengetahuan. Terlebih pada kondisi alam yang kian tak menentu, yang menjadikan orangtua mereka harus menghabiskan waktunya dikebun atau diladang untuk bekerja.

Anak-anak sebagai simbol peradaban baru sebuah bangsa, hanya menikmati belajar mereka di sekolah, dan dibatasi oleh jam sekolah dalam belajar. Keingintahuan anak yang semakin hari tidak mampu terjawabkan oleh orang tua atau guru mereka, menjadikan mereka sosok yang minder (kurang pergaulan), sehingga rasa ingin tahu yang ada di benak mereka hanya menjadi simpul-simpul syaraf yang menggumpal.

Seperti kita ketahui, sistem pendidikan kita yang masih bersifat sangat kaku, birokrastis dan sentralistik. Seorang guru harus menaati berbagai macam aturan, mulai aturan dari kepala sekolah, dinas pendidikan, belum lagi dengan penerbit buku (pemodal). Hal ini, menjadikan kreatifitas dalam dunia pendidikan kita menjadi statis, sehingga murid atau siswa hanya di jadikan sebagai alat kepatuhan dan tidak bisa mengembangkan potensi yang ada dirinya (mirip ajang bisnis, yang keuntungannya pada orang tententu saja).

Dengan permasalahan yang semakin rumit ini, anak akan selalu menjadi bagian yang terpinggirkan, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah strategis dalam upaya mengembangan potensi anak. Sehingga kretifitas dan kemampuan potensi mereka, akan menjadi jawaban bagi kemajuan desa, bangsa dan alam semesta.

Demam Berdarah Marburg  

Diposting oleh Achmad Fauzi

Pada tahun 1967, Tujuh dari 31 orang di Jerman dan Yugoslavia yang terserang demam berdarah, akhirnya meninggal dunia. Demam berdarah marburg, penyakit yang muncul pertama kali di kota Jerman yang bernama Marburg.

Penyakit demam berdarah marburg ini, awalnya menyerang dokter hewan dan teknisi laboratorium yang sedang menyiapkan biakan sel dari kera hijau Afrika (Cercopithecus aethiops). Sebanyak 25 orang yang bekerja di laboratorium tersebut, menderita sakit dengan gejala demam berdarah.

Sesudah temuan di Jerman dan Yugoslavia, penyakit marburg baru di temukan di Afrika, yakni di Johanesburg (1975), Uganda (1980), Kongo (1999), dan 56 meninggal dunia akibat dari penyakit marburg.

Kera hijau yang di peroleh dari Uganda- Afrika, di gunakan oleh peneliti untuk memproduksi vaksin polio manusia. Vaksin merupakan bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar".

Vaksin diciptakan karena adanya sebuah penyakit yang menjalar di masyarakat. Seperti diketahui, tahun 1971-1987 Uganda mengalami kerusakan hutan hampir 50% dari luasan wilayahnya, Hal ini tentu berdampak pada hilangnya habitat dari satwa. Hutan rimba memiliki jenis satwa yang membawa virus, tanpa satwa tersebut menunjukkan gejala penyakit.

Hal ini mengingatkan pada negara Indonesia yang kehilangan hutan, periode 1990 hingga 2001 laju deforestasi (penebangan hutan) mencapai dua juta hektare per tahun. Satwa yang seharusnya berada di hutan, kini harus rela berada di kandang-kandang besi, ada yang untuk kesenangan atau hobi, atau juga untuk penelitian biomedis.

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang sekarang digunakan untuk penelitian biomedis, penelitian yang di lakukan dalam usaha menciptakan vaksin. Monyet ekor panjang banyak di gunakan oleh peneliti, biasanya di tangkap dari hutan atau berasal dari tempat penangkaran. Selain jenis satwa ini belum dilindungi, satwa ini juga mudah untuk memperolehnya, dan entah apa yang akan di bawa virus pada monyet ekor panjang, seperti kera hijau yang membawa penyakit demam berdarah marburg.

Tentunya kita semua tidak mengiginkan virus yang seharusnya berada di hutan, telah berada di samping kita semua, dan Seharusnya bangsa ini banyak belajar dari sejarah...